Seiring perkembangan zaman perjuangan yang dialami mahasiswa semakin mengalami kemunduran, ini mungkin karena aktivitas perkuliahan yang begitu padat ataukah masih kurangnya pemahaman sebagai seorang "Mahasiswa". Seorang mahasiswa harus memahami tentang dirinya sebagai person dan makhluk sosial, dinamika kehidupan mahasiswa sebagai kaum terpelajar, situasi dan kondisi bangsa sebagai bagian dan pelanjut bangsa ini.
Berbeda dengan realitas yang terjadi saat ini dimana seorang mahasiswa hanya memahami secara formalnya sebagai seseorang yang terdaftar disuatu Perguruan Tinggi pada semester berjalan tanpa mau memperhatikan tanggungjawabnya sebagai penyambung lidah rakyat. Hal ini pun didukung dengan bara hedonisme yang telah melanda kampus-kampus saat ini. Mahasiswa yang seharusnya dekat dengan rakyat jelata, kini telah menjauh. Mahasisawa yang tadinya identik dengan buku-buku dan ruangan perpustakaan kini telah berubah menjadi mahasiswa yang identik dengan pusat perbelanjaan dan pusat hiburan.
Mahasiswa yang semestinya menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa ini, kini perlahan mulai meninggalkan budayanya. Hedonisme merupakan sifat yang identik dengan hal yang berlebih-lebihan dalam bersikap. Gaya hidup mewah merupakan ciri khas orang yang hedon, sikap dan prilakunya dalam bergaya yang berlebih-lebihan terkadang mebuat mereka menjadi lupa ”lupa akan dirinya sendiri, lupa pada rakyat jelata, lupa pada sopan-santun, lupa pada tugas dan tanggungjawab, bahkan bisa menjadi lupa daratan”.
Dalam dunia kemahasiswaan, akan terjadi dinamika dalam kampus dan kehidupan bermasyarakat. Hal ini tidak dapat dipisahkan karena posisi dan peran ganda seorang mahasiswa. Fenomena ini didasari oleh pluralitas, idealisme dan sistem yang berlaku. Terjadinya benturan antara nilai-nilai kebenaran ilmiah dan etika yang didapatkan di bangku kuliah dengan kerancuan sistem dan otoriterisme penguasa mendorong mahasiswa untuk melakukan gerakan pembaharuan yang didasarkan oleh idealisme dan kekuatan moral. Menumbuhkan kesadaran terhadap nilai-nilai kebenaran dan tanggung jawab moral pada seseorang sangatlah penting untuk mewujudkan kebenaran tersebut.
Nilai-nilai kebenaran ilmiah yang didapatkan mahasiswa dibangku kuliah kemudian melandasi cara berpikir dan bertindak mahasiswa termasuk dalam menyikapi kondisi sosial masyarakat. Nilai-nilai kebenaran ilmiah ini kemudian melahirkan suatu “Idealisme Mahasiswa”, dimana konsekuensi logis dari idealisme mahasiswa ialah tanggungjawab sebagai seorang yang menuntut ilmu harus dipenuhi dan peran sebagai social of control harus tetap dijaga.
Mahasiswa selaku agent of change and social of control seharusnya dapat melihat kesenjangan perjuangan kita pada hari ini. Spirit kemanusiaan dan keadilan kawan-kawan perlu dipertanyakan………? Apakah kawan-kawan hanya berpangku tangan melihat ketidakadilan dan penindasan ataukah hanya sekedar tertawa dan bersantai ria dihadapan jutaan masalah yang kita hadapi.
Tugas kita sebagai mahasiswa bukan hanya sekedar kampus, kamar ataupun kampung. Ketika kita telah mengetahui bahwa kita terlahir satu setidaknya ada beban yang kita harus tanggung bersama, beban dimana penderitaan saudara saudara kita yang lapar, pendidikan mahal, sistem politik dan perekonomian yang terbungkus kapitalis bersimbolkan demokratis dan ketika itu hanya sebagai bunga tidur bagi kawan-kawan secara tidak langsung kita menanggung dosa social.
Mahasiswa Politeknik sebagai bagian dari mahasiswa Indonesia mempunyai tanggung jawab moral untuk membela nasib rakyat Indonesia. Disamping itu, mahasiswa Politeknik juga bertanggungjawab untuk menguasai skill dibidangnya yang nantinya juga akan diterapkan di masyarakat. Situasi yang dilematis ini menyulitkan mahasiswa Politeknik untuk berkembang dan mewujudkan idealisme nya. Tapi hal tersebut bukanlah menjadi alasan untuk meninggalkan idealisme mahasiswa.
Jadi peranan mahasiswa Politeknik untuk bangsa bukan hanya sekedar belajar dan berjuang, tapi juga mengaplikasikan nilai-nilai kebenaran yang telah didapatkan, karena percuma ketika kita telah memahami sesuatu tetapi ternyata kita tidak mampu mengaplikasikannya.
..”bahwa tiap pergerakan mesti membawa perubahan dan tiap perubahan mesti membawa kematian dan kematian adalah spirit bagi revolusioner”.
trying to be perfect is good but, be yourself better without any coercion from others, doing according to conscience confident and believe everything will go smoothly Enjoyed every time...
Sunday, December 18, 2011
Refleksi Dunia Kemahasiswaan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment